Lagi lagi aku harus menerima kenyataan. Dimana aku hidup tanpa kepedulian. Hidup terserah, mati terserah.
Seperti debu yang dibiarkan berhamburan.
Pikir ku kacau.
Air mataku tak lagi bisa tertahan
Aku ini siapa?
Aku siapa?
Kenapa tuhan blm juga menjemputku.
Aku bisa gila lama lama
Hidup dengan keterpurukan
Sebab sikap keluargaku sendiri.
Lebih baik mati rasanya.
Dicaci maki
Direndahkan
Bahkan dihina didepan orang banyak
Oleh keluargaku sendiri.
Cabut nyawaku sekarang tuhan
Jangan kau beri nanti untuk kesekian kalinya.
Rabu, 30 Oktober 2019
Tuhan, izinkan aku untuk pulang
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Rabu 21 Desember 2022 Disisa tahun ini, just want to have fun. Sudah tidak ingin lagi melakukan hal hal berat. Sudah ingin menutup buku penc...
-
Majas perbandingan 1. Metafora : perbandingan langsung. Contoh: - Engkaulah putri duyung tawananku. 2. Simile/Asosiasi : mempersamakan s...
-
Resensi adalah ulasan atau penilaian mengenai suatu karya baik itu buku,film,atau karya lain. Tugas penulis resensi adalah memberikan gamba...
-
Dari sebuah percakapan kecil aplikasi chating. Kami berdua mulai merasa nyaman. Dengan sedikit canda sebagai condimen setiap harin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar